“Kukuruyuuuk….kukuruyuuuuk….kukuruyuuuk….”
Suara berkokok ayam berlomba-lomba memasuki ventilasi udara kamar Yuanita yang seolah turut membangunkan tidurnya di hari minggu pagi. Mendengar suara ayam berkokok itu, Yuanita pun segera bangun dan kemudian berdoa. Yuanita sudah terbiasa untuk berdoa setelah bangun tidur dan sebelum memulai aktivitasnya. Sesudah selesai berdoa, Ia bergegas pergi ke kamar mandi, tetapi ketika Ia hendak memegang gagang pintu kamar mandi, tiba-tiba “tok..tok..tok” suara pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara dari balik pintu.
“Yuan..Yuan.. Ayo Nduk, cepat bangun, biar nanti kita nggak terlambat datang ke gereja.” Sahut Mamanya agak sedikit berteriak.
“Ya Mama. Aku udah bangun. Ini baru mau mandi.” Jawab Yuan sambil memegang gagang pintu kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
“Oh ya sudah kalau begitu. Mama pikir kamu belum bangun. Ya sudah lekas mandi ya sayang.” Kata Mamanya sambil beranjak pergi meninggalkan kamar Yuan.
Setelah selesai mandi, Yuanita pun segera berpakaian. Ia mengenakan rok terusan selutut berwarna ungu yang sangat pas dikenakan di tubuhnya yang tinggi ramping, dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dengan dihiasi pita berwarna ungu.
Yuanita atau yang biasa disapa Yuan ini merupakan seorang gadis remaja berusia 16 tahun dan seorang anak tunggal dari Keluarga Julio. Hari ini adalah hari minggu pertama Yuan dan keluarganya bergereja di GKJ Bekasi Timur, karena mereka baru saja pindah rumah enam hari yang lalu. Yuan dan keluarganya berangkat bersama-sama menuju GKJ Bekasi Timur yang beralamat di Jl. Cut Meutia. Sesampainya disana, Yuan diantar kedua orangtunya ke tempat Kebaktian Remaja, sesudah itu kedua orang tuanya menuju ke tempat Kebaktian Umum. Yuan yang pendiam dan manja hanya duduk termenung sendirian di bangku belakang, sehingga ia tidak menyadari kehadiran dua orang gadis remaja yang cantik. Mereka adalah Natly dan Hanna yang merupakan pengurus Komisi Remaja GKJ Bekasi Timur.
“Hai…” Sapa Natly dan Hanna sambil menepuk pundak Yuan.
“Ha..aaa..iii..” Jawab Yuan agak terbata-bata sambil tersenyum ke arah mereka.
“Kamu baru pertama kali ikut kebaktian di sini ya? Oh ya, kenalin nama aku Natly (sambil menjabat tangan Yuan)” Kata Natly.
“I..” Baru saja Yuan ingin menjawab pertanyaan Natly, Hanna menyela bicaranya.
“Dan aku Hanna (sambil manjabat tangan Yuanita). Nama kamu siapa?” Sela Hanna.
“Ya Natly, aku baru pertama kali kebaktian di sini. Beberapa hari yang lalu aku baru aja pindah rumah ke Tambun. Kenalin nama aku Yuanita, biasanya aku dipanggil Yuan.” Jawab Yuan sambil tersenyum.
“Oh baru pindah tho. Aku panggil kamu Yuan aja ya. Ayo Yuan, duduk di depan aja bareng aku sama Natly. Nggak apa-apa Yuan, nggak usah takut. Ayo Yuan (sambil menarik tangan Yuan).” Ajak Hanna.
Akhirnya Yuanita menuruti ajakan Hanna dan Natly untuk duduk di bangku depan bersama-sama dengan mereka. Seusai ibadah, Hanna dan Natly memperkenalkan Yuanita di depan teman-teman remaja lainnya dan memperkenalkan satu per satu teman-teman remaja kepada Yuanita. Setelah kejadian itu, Yuanita pun menjadi sahabat dekat Natly dan Hanna. Mereka selalu mengajak Yuanita untuk turut serta dalam setiap kegiatan/acara yang diadakan oleh Komisi Remaja GKJ Bekasi Timur dan tak jarang Yuan berangkat bersama-sama dengan Hanna, ternyata rumah mereka berdekatan. Hal ini membuat mereka sangat dekat seperti seorang saudara, ya memang saudara, saudara dalam satu iman J. Makna suatu persekutuan akan lebih terasa jika tidak hanya hubungan dengan Tuhan saja yang terjalin, tetapi juga hubungan dengan sesama, maka kita dapat menikmati indahnya kebersamaan di dalam Tuhan.
Demikian juga dengan kedua orang tua Yuan, mereka pun turut berperan aktif dalam setiap kegiatan bergereja, terutama dalam kegiatan kelompok Tambun, seperti PA Bapak-bapak, PA Ibu-ibu, PA Gabungan, serta PD tiap sel. Suatu hari di hari sabtu siang, Mama Yuan menghadiri PA Ibu-ibu di rumah Ibu Naomi. Disana Mama Yuan memperkenalkan dirinya dan juga memperkenalkan keluarganya. Secara tidak sengaja, anak perempuan Ibu Naomi mendengar ucapan Mama Yuan yang mengatakan bahwa dia mempunyai seorang anak remaja. Sebagai salah seorang pengurus Pemuda Remaja Tambun, Nadine anak perempuan Ibu Naomi itu berniat mengajak Yuanita utuk mengikuti kegiatan yang diadakan Pemuda Remaja Tambun. Seusai acara PA, Nadine meminta nomor handphone Yuan kepada Mama Yuan dan meminta izin untuk menelpon Yuan sore nanti setelah dia pulang dari sekolahnya, serta mengajaknya ikut kebaktian Pemuda Remaja Tambun yang diadakan setiap sabtu malam.
**
Sinar matahari di sabtu sore ini sangat cerah menyinari wajah Yuan yang sedang berjalan mengenakan pakaian sekolah menuju ke rumahnya, wajahnya yang berseri-seri terbingkai indah oleh senyumannya. Walaupun Yuan seorang gadis yang pendiam, dia terkenal sebagai seorang yang ramah. Dia selalu menebarkan senyum kepada setiap orang yang ia kenal ataupun kepada orang yang ia temui di jalan, terutama kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya. Sesampainya di rumah, Yuan langsung menuju ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Ketika ia ingin memejamkan matanya, handphone-nya berdering, “kring…kring..kring…”. Yuan segera mengambil handphone yang ditaruh di saku bajunya. Lalu dia melihat nomor yang menelponnya di layar handphone, dia tidak mengenali nomor tersebut. Walaupun begitu, dia tetap menjawab teleponnya, lalu meletakkan handphone di telinganya, dan menyapa dengan ramah.
“Halo. Selamat Sore. Apa benar ini dengan Yuanita?” Sapa seseorang yang berada di balik telepon.
“Ya halo. Selamat sore. Ya benar, ini Yuanita. Siapa disana? Ada keperluan apa?” Jawab Yuan.
“Hai Yuan, aku Mbak Nadine pengurus Pemuda Remaja Tambun. Aku mau ngajak kamu ikut kebaktian Pemuda Remaja Tambun nih, hari ini jam setengah 7 malam di rumah mbak. Tadi aku sudah minta izin sama mama kamu kok, Mama kamu memperbolehkan dan bersedia mengantar kamu. Ayo bagaimana Yu?” Tanya Nadine.
“Hmm, hmm. Ya sudah nanti aku datang mbak.” Jawab Yuan.
“Asik kamu nanti bisa datang. Oke Yuan, sampai ketemu nanti. Dadaahh. God Bless You J .”
“Oke deh Mbak. God Bless You too J .”
“Tut..tut..tut..”
Sambungan telepon sudah diputuskan. Yuan pun segera bangun dari tempat tidurnya dan segera bersiap-siap. Ketika ia sedang sibuk bersiap-siap, Mama Yuan mengetuk pintu kamar Yuan dan berkata:
“Nduk, sudah siap belum? Sudah jam 6 nih.” Kata Mama.
“Ya Ma, sebentar lagi ya. Mama udah pulang tho. Aku kok nggak tau ya?” Jawab Yuan.
“Mama udah pulang dari setengah jam yang lalu nduk, kamu lagi mandi tadi. Ya sudah Mama tunggu di teras ya.” Sahut Mama Yuan sambil berbalik badan meninggalkan kamar Yuan.
Lima menit kemudian Yuan menghampiri Mamanya yang sedang menunggu di teras. Setelah itu, mama Yuan dan Yuan menuju ke kendaraan bermotornya, lalu segera berangkat. Sesampainya disana, Yuan disambut dengan sangat ramah oleh para pemuda dan remaja kelompok Tambun, terutama oleh Mbak Nadine, Mbak Bintang, dan Mbak Christy. Yuan merasa nyaman berada di tengah persekutuan pemuda remaja Tambun. Dia selalu berperan serta dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh pemuda remaja kelompok Tambun.
Bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, tak terasa sudah 1 tahun lamanya Yuan aktif dalam kegiatan pemuda remaja di kelompok Tambun, dan pada tahun ini mbak Nadine melepas status lajangnya. Tentunya hal ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Setelah mbak Nadine menikah, persekutuan pemuda remaja Tambun seakan hilang ditelan bumi. Hal ini dikarenakan mbak Nadine yang sudah tidak dapat bergabung lagi bersama-sama dengan pemuda remaja Tambun karena sudah berumah tangga, serta karena Mbak Bintang dan Mbak Christy yang sedang aktif di komisi anak GKJ Bekasi Timur, sedangkan Yuan dan juga teman-teman yang lainnya hanya berdiam diri saja karena biasanya semua kegiatan pemuda remaja Tambun diurus oleh Mbak Nadine, Mbak Bintang dan Mbak Christy. Hal ini menjadi ujian besar bagi persekutuan pemuda remaja Tambun.
Kegiatan pemuda remaja di kelompok Tambun vakum selama 6 bulan. Selama itu pula Yuan sangat merindukan agar persekutuan pemuda remaja Tambun dapat dibangun lagi, dan hal ini juga merupakan pokok doanya setiap hari. Dia percaya akan kekuatan sebuah doa, katanya P.U.S.H (Pray Until Something Happen). Setelah 6 bulan lamanya bergumul melalui doa, akhirnya Tuhan membuka jalan untuk persekutuan pemuda remaja di Tambun. Saat Yuan sedang bersantai sore di teras rumahnya, handphone yang sedang dipegangnya berdering, ternyata ada 1 pesan masuk dari Pak Nathan Ketua Kelompok Tambun. Beliau meminta tolong Yuan untuk menghubungi rekan pemuda remaja agar berkumpul di tempat ibadah Tambun hari sabtu jam 7 malam dalam rangka rapat pembentukan kepengurusan pemuda remaja Tambun yang baru. Kemudian Yuan segera memberitahukan berita tersebut kepada teman-teman pemuda remaja yang lainnya.
Sabtu malam yang dinanti-nantikan Yuan pun tiba, dia datang agak sedikit terlambat, ternyata Pak Nathan dan teman-teman yang lain sudah berkumpul. Yuan segera duduk di kursi kosong di sebelah Hanna. Tak lama kemudian Pak Nathan memulai rapat.
“Syalom. Selamat Malam rekan pemuda remaja Tambun. Terima kasih kalian sudah bersedia hadir malam ini. Seperti yang sudah diberitahukan oleh Mbak Yuan, kita disini akan membentuk kepengurusan Pemuda Remaja Tambun yang baru. Ayo siapa yang bersedia menjadi calon pengurus?” Sambut Pak Nathan.
Seketika ruangan menjadi sangat gaduh setelah Pak Nathan mengucapkan serangkaian kata tersebut. Semuanya saling tunjuk menunjuk antara yang satu dengan yang lainnya. Akhirnya Pak Nathan mengambil alih kendali.
“Teman-teman, perhatian. Daripada kalian ribut, biar saya saja yang menentukan calon-calonnya, yaitu Mbak Hanna, Mbak Yuan, dan Mbak Festy. Silakan kalian menuliskan nama yang kalian pilih dalam secarik kertas.” Saran Pak Nathan.
Mereka pun menuliskan pilihan mereka dan mengumpulkannya kepada Pak Nathan. Setelah terkumpul semua, perhitungan suara pun dimulai. Perolehan suara tertinggi diperoleh oleh Hanna dan disusul oleh Yuan serta Festy. Jadi yang menjadi ketua adalah Hanna, Sekretaris Yuan dan Bendahara Festy, sedangkan teman-teman yang lainnya dimasukkan ke dalam seksi-seksi yang yang ada. Akhirnya persekutuan pemuda remaja Tambun dapat berjalan lagi dari mingu ke minggu, bulan ke bulan, dan saat ini sudah berjalan ± 1 tahun, diharapkan persekutuan pemuda remaja Tambun dapat berjalan terus setiap tahunnya serta kualitas iman pemuda remajanya dapat bertumbuh terus.
Demikian juga dengan GKJ Bekasi Timur yang merupakan pohon/induk dari ranting/kelompok Tambun yang sekarang sudah berdiri selama 1 tahun dengan serangkaian perjuangan, suka duka, dan juga kisah. Diharapkan di usianya yang pertama ini, GKJ Bekasi Timur dapat terus berdiri kokoh, bukan hanya kokoh gedungnya, tetapi juga kokoh imannya, persekutuannya, persaudaraannya, kekeluargaannya, dan kebersamaannya di dalam Tuhan.
~ Sekian ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar